Everything You Know the Story

  Mungkin tulisan kali ini akan terasa panjang dan melelahkan, mungkin juga membuatmu bosan. Tapi, jika hatimu masih sanggup, bacalah perlah...

Who will dry your eyes ?

 

Mungkin tulisan kali ini akan terasa panjang dan melelahkan, mungkin juga membuatmu bosan. Tapi, jika hatimu masih sanggup, bacalah perlahan. Karena setiap kata di sini bukan sekadar huruf, melainkan frasa yang terus bergemuruh. Ada rasa bangga memilikimu, ada rasa takut kehilanganmu, ada rasa bersalah yang menyesakkan dada karena aku pernah mengecewakanmu. Ada pula rasa bodoh yang menggores dalam. karena aku telah membohongimu.

Aku sering merasa seperti pecundang, Sayang. Pecundang yang seharusnya menjaga hatimu, malah membuat luka di dalamnya.

Lalu....

Mengingat kenangan kita sebelum bertemu dan mengenal satu sama lain adalah hal yang luar biasa bagiku, sampai disatu titik mempertemukan kita kedalam hubungan yang lebih serius, Bagiku mengingat moment itu merupakan hal baik, kita pun bercanda, bergurau, bermesraan bersama sampai lupa waktu. Aku yang sedari awal selalu rindu denganmu, menghabiskan waktu bersama merupakan hal yang tak mau aku lewati begitu saja. Namun, di tengah semua indahnya perjalanan itu, aku justru melangkah salah. Langkah bodoh yang akhirnya membuatmu terluka begitu dalam. Kekecewaanmu padaku bagaikan badai yang merobek segala rasa percaya yang kita bangun, menghancurkan hati yang seharusnya aku jaga dengan penuh kasih sayang. Aku membayangkan luka di hatimu, dan di situlah aku sadar betapa aku begitu ceroboh, betapa aku gagal untuk menjadi lelaki yang jujur dan terbuka sejak awal. Karena sesungguhnya, aku mencintaimu dengan segenap jiwa, dan aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena kebodohanku sendiri. 

Ini sudah hari keberapa semenjak kamu tak mau dekat lagi denganku? 3 hari? 5 hari? satu minggu ? sejak saat itu semua berubah dari pandangan kamu ke aku, dari sikap kamu ke aku, segala hal tentang aku bahkan kalimat sederhana 'I Love You' yang dulu terasa hangat, kini seperti tak lagi berarti di telingamu.. Permintaan maafku, selalu kamu tolak mentah-mentah. Dan aku mengerti, sangat mengerti, betapa dalamnya luka yang kubuat. Aku tahu kebohonganku soal pekerjaanku yang belum stabil telah merobek kepercayaanmu, membuatmu terpuruk karena kesalahanku sendiri. Yang lebih menyakitkan bagiku adalah, kamu sudah memberikan warna baru di hidupku, cahaya yang membuatku bangkit dari kelamku, tapi aku justru membalasnya dengan membawa badai dalam hidupmu. Aku menyesal, benar-benar menyesal, karena kehilanganmu adalah hal yang sangat menyakitkan bagiku. Andai saja bisa, aku ingin memelukmu erat, meyakinkanmu bahwa aku sedang belajar, bahwa aku ingin berubah, bukan hanya untukku, tapi untuk kita. Karena kamu tetaplah satu-satunya alasan kenapa aku ingin bertahan, meski seluruh dunia seakan menjauh dariku.


Tulisan ini hanyalah isi kepalaku, saking besarnya rasa bersalah yang selalu menghantui setiap langkahku. Setiap hari aku mencoba memperbaiki diriku sendiri, sedikit demi sedikit, agar kamu bisa kembali percaya padaku. Langkahku tak akan pernah berhenti, meski penuh luka, aku tetap melangkah, karena, satu-satunya tujuan yang aku mau hanyalah kamu. Tanpa sepengetahuanmu, aku selalu berusaha, mencari jalan, mencari lowongan pekerjaan, mencari apapun yang bisa membuatku layak di matamu lagi. Aku berjuang diam-diam bukan untuk diriku saja, tapi agar suatu hari nanti kamu bisa melihat aku dengan bangga, bukan dengan kecewa. Aku tidak ingin sekadar mengembalikan apa yang sudah rusak. Aku ingin memperbaikinya menjadi sesuatu yang lebih kuat, lebih indah, lebih sempurna dari semula. Karena kamu adalah alasan kenapa aku harus berubah, dan aku akan terus berusaha, meski butuh waktu, meski harus jatuh bangun, aku akan lakukan semuanya, demi kita.


Mengingat kembali masa-masa aku mulai mencoba mendekatimu dengan tujuan ingin mengajakmu bermain badminton bareng, bahkan llucunya sampai saat ini belum terealisasikan. Tanggal 31 Mei, sebuah tanggal yang mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bagiku itu adalah titik awal segalanya. Saat aku memberanikan diri membuka profil Instagram-mu yang polos tanpa bio, aku melihatnya sebagai pintu kecil untuk masuk ke hidupmu. Dengan rasa gugup yang tak bisa kujelaskan, aku akhirnya memberanikan diri mengirim chat pertama. hal paling mengejutkan bagiku, keesokan harinya kamu selalu merespon. Dari situlah aku mulai sadar, bahwa percakapan sederhana itu bukan sekadar kebetulan. Hingga akhirnya, tanpa banyak basa-basi, aku meminta kontak WhatsApp-mu. sebuah langkah kecil, tapi ntahkenapa aku merasa itu adalah awal dari kisah yang akan mengubah seluruh hidupku. disaat itu juga aku mulai Chatting-an denganmu begitu intens kita bergurau dan awal yang terlontar dari kamu adalah 'cepet bngt wkwk' kita saling bertukar cerita kebetahan kita kerja. Sejak saat itu, aku tahu, kamu bukan sekadar seseorang yang aku chat untuk mengisi waktu, tapi kamu adalah seseorang yang mampu mengisi ruang hatiku yang kosong, dengan cara yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Aku ingin sekali menulis kenangan manis kita di halaman ini, tentang kita, tentang masa depan yang dulu aku bayangkan begitu indah bersamamu, tentang betapa aku benar-benar mencintaimu. Tapi kenyataannya, aku juga yang menghancurkan segalanya di hadapanmu.

Tanggal 6 Juni akan selalu menjadi jejak pertama kita bertemu lagi setelah sekian lama. Aku masih ingat jelas, aku memberanikan diri mengajakmu ke sebuah café. Kamu tersenyum, mengiyakan ajakanku, dan itu adalah detak awal di mana dunia kembali berpihak padaku. Aku yang tak bisa membawa motor, akhirnya harus dengan malu dibonceng olehmu. Bahkan sebelumnya aku sempat berencana memesan mobil online, hanya untuk menutupi rasa maluku sebagai seorang laki-laki yang gagal terlihat 'kuat'. Tapi justru tawa pecahmu waktu itu, tawa yang membongkar semua egoku, membuat aku semakin jatuh, semakin larut dalam dirimu. Hari itu, untuk pertama kalinya kita berbincang tanpa layar ponsel yang jadi perantara. Aku menatap wajahmu, menatap matamu, dan menemukan kenyataan bahwa teman masa kecilku kini hadir kembali dalam wujud yang lebih indah, lebih nyata, lebih berarti. Dan saat aku melihat lelah di wajahmu, hatiku tertegun, kaku, seolah ada suara dalam diriku yang berbisik: 'Inilah perempuan yang harus kau jaga. Inilah rumahmu.'
Dari kita ketemu, akupuin udah tremor ketka ngobrol bareng denganmu, sambil bermain UNO, yang pada akhirnya aku tidak bisa mengalahkanmu.

Tapi kini aku malah menjadi orang yang melukai, orang yang menghancurkan kepercayaanmu. Kadang aku berpikir, apa gunanya kenangan manis jika aku sendiri yang menodainya? Namun, cinta ini tidak pernah padam, bahkan di kegelapan. Biarkan aku memeluk luka ini, biarkan aku menanggung semua kecewamu, asal di ujungnya aku masih bisa memanggilmu rumah. Karena tanpa kamu, aku hanya puing, serpihan lelaki yang kehilangan arah.

Aku masih ingat satu momen di mana lagi aku memberanikan diri berkata langsung kepadamu, aku ingin sebuah kesempatan kedua, untuk kembali berada di hatimu. Saat itu, kamu mengiyakan, kamu memberikan waktu, hanya satu bulan. Tapi ntah mengapa, satu bulan itu terasa lebih dari cukup untuk membuatku merasakan lagi hangatnya hidup. Rasanya nyaman sekali, hangat sekali, seperti aku dilahirkan kembali sebagai diriku yang baru. Dan dalam satu bulan itu, ada hal sederhana yang ternyata paling mengikatku padamu: sleepcall. Kedengarannya sepele, tapi justru itulah yang merubah segalanya dalam hidupku. Dari kebiasaan kecil itu, aku mulai terbiasa menutup mata dengan suara lembutmu, dan bangun dengan rindu yang tak pernah selesai.

Sekarang, ketika malam datang tanpa suaramu, ada kecemasan yang menyesakkan dada. Ada kesepian yang menggema di setiap sudut kamar. Ada rasa kehilangan yang seperti merobek-robek jiwaku perlahan. Tanpa sleepcall bersamamu, aku merasa gelap menelan semua ruang, dan aku hanya bisa bertanya dalam hati: bagaimana caranya aku bisa kembali utuh jika kamu bukan lagi tempat aku pulang?

Tanggal 8 Juni hari itu aku memberanikan diri untuk belajar motor. Mungkin bagimu terlihat sepele, bahkan aneh di awal-awal. Tapi bagiku, itu adalah langkah kecil yang begitu besar, karena dalam benakku hanya ada satu tujuan: agar suatu hari aku bisa memboncengmu dengan tanganku sendiri. Dan ketika akhirnya aku bisa rasanya hangat sekali, seakan dunia ini lebih ringan hanya dengan kehadiranmu di belakangku.Ada hal lain yang mungkin tampak aneh bagi orang lain, tapi bagiku justru romantis dan tak tergantikan: setiap kali kita pergi nongkrong, kita selalu memberi rating momen kita bersama. Dan bagiku, berapapun rating yang kita buat, semuanya terasa sempurna hanya karena ada dirimu di sana.


Tanggal 1 Juli hari dimana kita staycation  dari tanggal 29 Juni, lalu pada malamnya kita saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Moment dibandung merupakan hal yang paling luar biasa dan hadiah terindah dari kamu, kita berencana untuk pergi tetapi keputusan kiita hanyalan berdiam diri dikamar hotel sambil bergurau dan beromantis, seakan diluar ruangan tak berarti lagi. moment dimana aku mencium bibirmu pertama kali, dan aku sangat bergetar, kamupun membalas ciumanku, begitu mesra nan indah. Moment dimana aku memberikanmu sebuah bunga yang meng-artikan rasa sayang aku ke kamu bukan sekedar main-main lagi, rasa sayang aku yang tak pernah mati. 


Aku masih ingat jelas, dari jendela kamar kita bisa melihat jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu kota menyala bagai bintang buatan manusia, seolah menjadi saksi bisu atas momen kita berdua. Di luar sana dunia masih sibuk dengan hiruk-pikuknya, tapi di dalam kamar itu, seakan hanya ada kita dua manusia yang saling menemukan rumah di pelukan satu sama lain.Ketika aku memelukmu erat malam itu, rasanya asing sekaligus hangat. Asing, karena aku belum pernah merasakan rasa sekuat itu sebelumnya. Hangat, karena aku sadar aku sedang memeluk seseorang yang begitu berharga, seseorang yang selama ini hanya bisa kurindu dari kejauhan, dan kini ada di dalam dekapanku.


Pelukan itu bukan sekadar rangkulan. Itu adalah janji. Janji yang diam-diam aku bisikkan dalam hati: bahwa aku tidak ingin kehilanganmu lagi, bahwa aku ingin berada di sisimu lebih lama, bahkan kalau bisa, selamanya. Dan jika suatu hari kamu lupa akan momen itu, biarkan aku yang mengingatnya seumur hidupku, malam di mana aku memelukmu erat, dan untuk pertama kalinya aku merasa, inilah rumahku. Inilah tempat aku ingin menua, bersama kamu, dalam suka dan duka, dalam tawa dan air mata.



Tanggal 24 Juli hari itu kamu genap berusia 26 tahun. Usia baru, harapan baru, tujuan hidup yang semakin jelas. Namun bagiku, hadiah terbesar dari hari itu bukan sekadar angka di usiamu, melainkan kenyataan bahwa aku masih bisa menemanimu melewati pergantian waktu. Dua hari setelahnya, tanggal 26 Juli, kita memutuskan untuk pergi staycation ke Jakarta bertepatan dengan usiamu yang ke-26. Bukan tempat mewah, bukan pesta meriah, hanya kita berdua, terkurung di dalam ruangan hotel, berbagi tawa, masalah, dan keheningan yang begitu romantis. Aku masih ingat jelas, pertama kalinya aku memberimu sebuah kalung. Tidak ada lilin yang menyala, tidak ada kue ulang tahun dengan riuh tepuk tangan, hanya ada kita, dua manusia yang mencoba saling merangkul rapuhnya satu sama lain. Dalam hening itu, justru aku merasa inilah cinta paling jujur yang pernah aku punya walau aku tau sedari awal aku sudah salah melangkah karena telaah membohongimu. 


Di tengah semua canda, percakapan, dan pelukan hangat malam itu, pikiranku dipenuhi oleh satu hal, aku ingin bersamamu lebih lama. Bukan hanya untuk satu malam, bukan hanya untuk satu momen, tapi untuk hari-hari panjang yang menua bersama. Aku ingin mengenal setiap luka dan tawamu, ingin merayakan setiap kegagalan dan kemenanganmu, ingin menyembuhkanmu sekaligus belajar sembuh bersamamu. Aku memang manusia bodoh, jika kamu memberika kesempatan padaku untuk membuktikan aku serius denganmu, akan aku lakukan.


Kita memang pernah jatuh pada rasa kecewa, putus asa, dan bersalah. Luka itu nyata, pahitnya pun masih terasa. Tapi entah bagaimana, kita selalu menemukan jalan untuk kembali, untuk tetap bertahan. Dan malam itu, di kamar hotel sederhana dengan kalung yang kuikatkan di lehermu, aku tahu.  aku ingin seluruh hidupku diikat bersamamu juga.

Jika...

Penyesalan yang tlah aku lakukan...

Aku sadar. Aku bukan cowo yang sempurna, bahkan jauh dari kata pantas. Setiap hari aku mencoba memperbaiki diriku. Diam-diam aku mencari pekerjaan, mencari penghasilan yang tetap, semua itu untuk kita, alasan kita bersama walau kenangan mais tersebut aku sendiri yang menodainya. Aku rela membuktikan kepadamu, sayang. suatu hari aku yakin , aku masih bisa memanggilmu rumah. Yang membuatku paling hancur adalah kenyataan bahwa aku melukai kamu perempuan yang aku sayang , yang selama ini justru menjadi warna hidupku, aku benar-benar menyesal apa yyang telah aku perbuat, aku benci pada dairiku sendiri, karena harusnya aku yang meliindungimu. senyummu tidak lagi sama, ntah sudah berapa hari ini aku menulis dan menghapus kata-kata ini berulang kali, tapi tetap air mataku terjatuh membayangkan perasaan sakit yang kamu terima dariku. 

Sayang, aku bakal berusaha membuatmu percaya lagi, rasa sayangku tidak bohong, hanya caraku saja yang salah.  Kamu, tetaplah rumahku sejauh apapun itu, aku ingin pulang kepelukanmu.

Niat...

Permintaan satu hal untukmu...

Sayang aku, aku ingin kesempatan sekali lagi. Aku ingin kembali ke hatimu, meski hanya setitik.  Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berubah lebih baik untuk hubungan kita, hubungan yang kita rencanakan seperti sebelumnya. Aku masih merindukan sleepcall kita yang hangat, Hal sederhana yang ternyata bisa membuatku merasa hidup kembali. Sayang, kamu sekarang tidak percaya lagi padaku, kamu sudah terlalu lelah. tapi aku ingin kamu tahu, meski aku pernah jadi alasan kamu terluka lagi, aku juga inin menjadi alasan kamu sembuh. 

Kalaupun kamu tak mengizinkan aku di hati kamu, biarlah aku menyimpan semua kenangan ini sebagai bagian terindah dalam hidupku. Tapi jika ada sedikt ruang, sekecil apapun itu, biarkan aku kembali. biarkan aku membuktikan bahwa aku pernah salah, aku ingin sekai menua denganmu, karena aku ingin hidupku diikat sama kamu.

Isna kesayang aku, disini aku masih sayang sama kamu, walau kamu sudah tidak punya rasa lagi, aku tetap sayang dan aku rindu denganmu.

0 komentar: