Kalau kamu membaca ini, berarti kamu masih memilih untuk tinggal, setidaknya sebentar, di ruang kecil yang aku buat khusus untukmu. Dan ya, kamu memang orang yang spesial bagiku. Bukan spesial yang sekadar diucapkan manis-manis saat suasana hati sedang baik, tapi spesial yang membuatku diam-diam takut kehilangan. Takut dalam arti yang dewasa, bukan mengekang, hanya takut jika suatu hari aku tak lagi punya kesempatan untuk duduk di sampingmu dan menceritakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, tapi terasa berarti karena ada kamu.
Ini memang hadiah Valentine yang terlambat. Telat, seperti beberapa hal dalam hidupku yang sering datang tidak tepat waktu. Tapi bukankah perasaan tidak punya tanggal kedaluwarsa? Hari Valentine mungkin sudah lewat, cokelat mungkin sudah habis dimakan orang lain, bunga mungkin sudah layu di etalase toko. Tapi rasa yang ingin aku sampaikan tidak ikut basi hanya karena kalender bergerak lebih cepat dari kita. Lagi pula, kita berdua tahu, yang sering membuat waktu terasa cepat bukanlah jam di dinding, tapi caramu tertawa saat bersamaku.
Jadi kalau kamu membaca ini, luangkan waktumu sebentar. Mungkin ini akan sedikit lebih panjang dari biasanya aku memang punya bakat overthinking yang kalau dikumpulkan bisa jadi skripsi jilid dua. Tapi di antara semua kalimat yang mungkin terlalu dalam, terlalu serius, atau terlalu banyak tanda koma, ada satu hal yang sederhana: aku menyayangimu. Dengan cara yang tidak selalu sempurna, tidak selalu romantis seperti film, kadang malah canggung dan ngeselin tapi nyata. Dan untukku, itu sudah lebih dari cukup.
Sekian kalinya kita bertemu, tapi rasanya selalu seperti pertama kali. Hanya kita berdua di dalam kamar hotel yang tidak terlalu luas, namun cukup untuk menampung tawa, cerita, dan rindu yang menumpuk selama LDR. Kita duduk bersandar di lantai, memainkan game kecil yang bahkan aturannya pun kadang kita langgar sendiri, tapi entah kenapa ketawa kita pecah begitu saja keras, lepas, seperti dua anak kecil yang baru saja kabur dari dunia dewasa. Game-nya sederhana, hadiahnya tidak ada, tapi hangatnya luar biasa. Bahkan kita sempat lari-larian kecil sambil makan makanan yang sudah kita beli, berantakan, konyol, tapi justru di situlah aku merasa paling hidup bersamamu.
Bagiku, momen itu indah dan hangat dengan cara yang dewasa. Bukan hanya karena kita tertawa, tapi karena kita tahu betul betapa sulitnya sampai di titik itu. Sebelum semua hangat itu terjadi, perjalanan kita penuh drama yang hampir seperti sinetron jam prime time. Aku yang tiba-tiba dari Bali nekat beli tiket ekonomi demi bisa cepat bertemu, malah harus “naik kasta” ke bisnis karena kesalahan maskapai sebuah upgrade yang ironisnya tidak membuat rindu ini lebih cepat sampai. Setelah mendarat di Halim, aku masih harus menunggu mobil online yang entah kenapa terasa lebih lama dari biasanya. Padahal hatiku sudah berlari duluan ke arahmu.
Dan esok ketika akhirnya aku sampai di kost-mu yang sekarang setidaknya sudah aku hafal jalannya semua lelah, semua kesal, semua drama perjalanan itu seperti gugur satu per satu. Rasanya lucu, perjalanan yang begitu ribet hanya untuk sampai ke satu pelukan yang sederhana. Dari situ kita pergi ke hotel, duduk berhadapan, dan mulai saling bercerita. Tidak ada layar, tidak ada delay suara, tidak ada sinyal putus-putus. Hanya kamu di depanku, dan aku bisa melihat langsung caramu tersenyum, caramu menggerakkan tangan saat bercerita, caramu tertawa tanpa jeda jaringan.
Nyaman sekali rasanya berada di sampingmu secara nyata. Ada ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh panggilan video atau pesan panjang tengah malam. Kita memenuhi wishlist kecil kita yang bukan tentang tempat mewah atau agenda besar, tapi tentang hal-hal sederhana yang selama ini hanya kita bayangkan dari kejauhan. Dan di kamar hotel itu, dengan segala kesederhanaannya, aku sadar: kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dalam bentuk yang megah. Kadang ia hadir dalam bentuk tawa yang pecah di ruangan kecil, makanan yang dimakan sambil bercanda, dan dua orang yang memilih untuk tetap bertahan meski perjalanan menuju satu sama lain selalu penuh adegan drama.
Dan kalau harus mengulang semuanya tiket yang salah, mobil online yang lama, bahkan rasa kesal yang menyelipaku tetap akan memilihnya. Karena di ujung semua drama itu, selalu ada kamu sayang dan itu cukup untuk membuat semuanya terasa layak.
Di malam yang terasa sederhana tapi entah kenapa hangat sekali, kita tertawa tanpa alasan besar, menyanyi lagu yang liriknya kita hafal setengah-setengah, lalu bercanda seperti dua orang yang lupa kalau dunia punya masalah. Dari balkon hotel tempat kita menginap, tanpa rencana dan tanpa tiket VIP kehidupan, kita melihat kembang api mekar di langit kota. Warnanya memantul di kaca gedung, di jalan yang ramai, dan diam-diam juga di matamu. Indahnya bukan cuma karena cahaya yang pecah di udara, tapi karena kita menyaksikannya bersama tenang, tanpa terburu-buru, seolah malam memberi jeda khusus untuk kita bernapas.
Angin malam membawa suara sorak-sorai dari jalan di bawah, lampu kota berpendar seperti bintang yang memutuskan tinggal di bumi, dan aku duduk di sampingmu dengan perasaan aneh: damai tapi juga penuh. Rasanya seperti dunia sedang berkata, “sebentar ya, biarkan mereka menikmati momen ini.” Dan lucunya, di tengah suasana romantis itu, kamu mengeluarkan suara kentut yang aku ledek “kamu juga punya petasan ya sayang.” lalu kita tertawa lepas lagi.
Di malam yang terasa sederhana tapi entah kenapa hangat sekali, kita tertawa tanpa alasan besar, menyanyi lagu yang liriknya kita hafal setengah-setengah, lalu bercanda seperti dua orang yang lupa kalau dunia punya masalah. Dari balkon hotel tempat kita menginap, tanpa rencana dan tanpa tiket VIP kehidupan, kita melihat kembang api mekar di langit kota. Warnanya memantul di kaca gedung, di jalan yang ramai, dan diam-diam juga di matamu. Indahnya bukan cuma karena cahaya yang pecah di udara, tapi karena kita menyaksikannya bersama tenang, tanpa terburu-buru, seolah malam memberi jeda khusus untuk kita bernapas.
Angin malam membawa suara sorak-sorai dari jalan di bawah, lampu kota berpendar seperti bintang yang memutuskan tinggal di bumi, dan aku duduk di sampingmu dengan perasaan aneh: damai tapi juga penuh. Rasanya seperti dunia sedang berkata, “sebentar ya, biarkan mereka menikmati momen ini.” Dan lucunya, di tengah suasana romantis itu, kamu mengeluarkan suara kentut yang aku ledek “kamu juga punya petasan ya sayang.” lalu kita tertawa lepas lagi.
Malam itu aku sadar, kebahagiaan bukan selalu tentang rencana besar atau tempat mewah. Kadang ia hadir begitu saja: di balkon hotel, di langit yang menyala warna-warni, di tangan yang saling menggenggam tanpa sadar. Jika suatu hari aku diminta mengingat satu malam yang membuat hidup terasa ringan, mungkin aku akan kembali ke momen ini saat kembang api meledak di langit, kota bersinar di bawah kita, dan hatiku diam-diam berkata: kalau seperti ini rasanya pulang, aku ingin pulang kepadamu, lagi dan lagi.
Lalu hari yang selalu kita benci itu akhirnya datang juga hari ketika aku harus kembali ke bali dan kita kembali belajar melepaskan tanpa benar-benar melepaskan. Kita menangis, bukan karena lemah, tapi karena kita tahu apa yang kita jaga ini berharga. Siang sebelum check-out hotel, kita duduk berdampingan, membongkar isi hati seperti koper yang terlalu lama dipaksa muat: rindu, takut, lelah, dan harapan yang tetap kita lipat rapi agar muat dibawa pulang. Kita sama-sama paham LDR akan datang lagi, tapi seperti dua orang keras kepala yang percaya pada pulang, kita tetap memilih untuk tinggaldi hati satu sama lain.
Empat hari itu berlalu seperti napas pendek: cepat, hangat, dan penuh hal kecil yang diam-diam menetap selamanya. Aku tidak menyesal sedetik pun. Bahkan aku masih sempat menggoda, “minggu depan aku pulang lagi ya sayang,” dan kamu menolak dengan logika biaya tapi mengiyakan dengan hatiromantis sekali, walau spreadsheet keuangan kita mungkin menangis pelan. Di sana aku berjanji akan pulang sebelum Lebaran tiba, dan kita membayangkan wishlist sederhana: buka puasa bersama, membagikan takjil, berjalan sore sambil menertawakan hal remeh, dan merasa cukup hanya karena kita berdampingan.
Dan sekarang aku membawa pulang kenangan itu seperti cahaya kecil yang terus menyala. Karena aku tahu, jarak boleh memisahkan langkah kita, tapi tidak pernah berhasil memisahkan arah pulang kita. Nanti, saat kita akhirnya duduk berdampingan lagi menjelang magrib, mungkin kita akan tersenyum dan sadar: yang membuat semuanya menenangkan bukan kota, bukan waktu, tapi kenyataan bahwa setelah semua perjalanan, aku tetap memilih kamu dan kamu tetap memilih aku. Dan kalau nanti ongkos masih berat, ya sudah, kita berat-beratin bareng saja.
Terima kasih, sayang, sudah menjadi bagian terbaik dalam hidupku. Terima kasih untuk Valentine kemarin yang terasa sederhana tapi justru paling hangat yang pernah aku rasakan. Terima kasih karena kamu mencintaiku dengan cara yang tulus: perhatian kecilmu yang diam-diam menenangkan, dan perhatian besarmu yang selalu mengingatkanku bahwa aku tidak pernah sendirian. Kehadiranmu bukan hanya berarti bagiku, tapi juga bagi keluargaku yang menerima kamu dengan pelukan hangat dan jujur saja, melihat kamu berbaur dengan mereka membuat hatiku penuh dengan rasa tenang yang sulit dijelaskan.
Hari-hari bersamamu tidak pernah ingin kulewatkan begitu saja. Di setiap tawa, obrolan ringan, sampai momen diam yang nyaman, aku menemukan sesuatu yang terasa seperti rumah. Aku di sini, selalu menyayangimu, selalu ingin memelukmu lebih lama dari waktu yang diizinkan jarum jam. Dan ketika waktu mempertemukan kita lagi nanti, kita akan membuat cerita-cerita baru lebih seru, lebih hangat, dan mungkin lebih kocak dari rencana kita sendiri, karena seperti biasa, kita jago merencanakan hal romantis tapi berakhir tertawa karena hal-hal kecil yang tidak terduga.
Jika cinta punya bentuk yang sederhana, mungkin ia terlihat seperti kita: saling menjaga, saling pulang, dan tetap memilih satu sama lain, bahkan setelah hari-hari istimewa berlalu.
akhir kata sebelum malam berganti hari, i love you so much sayang, jangan bosen-bosen mengingatkan aku hal kecil. 🤗💕
Ingin Mengirim Naska Novel anda?
Aku Bisa menjadi saran untuk menyebarkan novel anda semua, kalian bisa mengirim naskah melewati sosial media berikut.