Everything You Know the Story

Selamat malam, sayang. Ini hanya sedikit monolog dari hatiku yang diam-diam sedang memikirkan kamu di sana. Kalau kamu membaca ini, bacalah ...

Soft hours, loud longing

Selamat malam, sayang. Ini hanya sedikit monolog dari hatiku yang diam-diam sedang memikirkan kamu di sana. Kalau kamu membaca ini, bacalah perlahan ya, seperti cara aku menyimpan setiap rasa yang kupunya untukmu.

.

Kadang aku sadar, rindu itu bentuknya aneh.

Dia nggak selalu datang saat malam sepi atau lagu sedih diputar pelan. Kadang dia muncul justru saat layar handphone menyala, ketika wajahmu ada di sana, tersenyum lewat video call, sedekat itu, tapi tetap nggak bisa aku sentuh.


Aku bisa melihat matamu, mendengar tawamu, bahkan tahu ekspresi kecilmu ketika kamu lagi capek. Tapi tetap saja ada jarak yang nggak bisa ditembus sinyal internet. Rasanya seperti berdiri di depan rumah sendiri tapi pintunya belum bisa dibuka.


Lucu ya, teknologi bisa mempertemukan wajah kita setiap hari, tapi tetap nggak bisa menggantikan satu hal sederhana: memelukmu tanpa batas waktu.


Kadang setelah telepon ditutup, kamar tiba-tiba jadi lebih sunyi dari sebelumnya. Bukan karena kamu pergi, tapi karena aku baru sadar betapa tenangnya hatiku waktu kamu tadi ada di layar. Dan ketika layar itu gelap, rindu kembali duduk di sampingku, diam, tapi berat.


Aku nggak minta jarak ini cepat selesai. Aku cuma berharap, suatu hari nanti kita akan menertawakan masa ini bersama. Kita akan bilang, “Dulu kita cuma bisa saling menyentuh lewat layar kecil,” sambil duduk berdekatan tanpa perlu countdown durasi call.


Sampai hari itu datang, aku akan tetap menatap layar yang sama setiap malam, bukan karena itu cukup,  tapi karena di sana ada kamu, rumah yang sementara hanya bisa aku kunjungi lewat cahaya handphone.


Dan entah kenapa, meskipun jarak ini melelahkan, aku tetap memilihnya.

Karena di ujung rindu ini, selalu ada kamu.

2 komentar: