Sayang, kalau kamu belum bobo, ini adalah tulisanku tentang diri kamu, monolog batin dari hati aku untuk kamu yang sedang jauh disana, sedari kemarin akuuu tidak bisa bobo nyenyak karena selalu mikirin kamu, dibaca yah cantik. tapi aku juga pengen ngebacain untuk temen bobo kamu.
Malam ini terlalu sunyi.
Bukan karena tidak ada suara, tapi karena tidak ada kamu di dekatku, sayang.
Lampu ruangan masih menyala, layar hape masih terbuka, pekerjaan masih berjalan seperti biasa. Dunia tetap bergerak seolah semuanya normal. Tapi ada bagian kecil dalam diriku yang diam-diam berhenti dan menoleh ke arah kosong yang seharusnya ada kamu.
Aku baru sadar, rindu itu bukan selalu tentang ingin bertemu. Kadang rindu cuma ingin duduk berdekatan tanpa bicara apa-apa. Cuma ingin tahu kamu ada. Itu saja sudah cukup.
Aku menjalani hari-hariku dengan baik. Aku bekerja, bercanda, tertawa, bahkan terlihat kuat. Tapi ada lelah yang tidak terlihat orang lain. Lelah yang muncul bukan karena pekerjaan, tapi karena menahan keinginan sederhana yang tidak bisa langsung terpenuhi.
Keinginan untuk pulang ke kamu.
Lucunya, dulu aku tidak pernah merasa kesepian seperti ini. Aku terbiasa sendiri. Terbiasa mengurus semuanya tanpa bergantung pada siapa pun. Tapi sejak kamu hadir, aku belajar sesuatu yang baru: ternyata hati bisa menemukan tempat istirahatnya.
Dan sejak itu, setiap jarak terasa lebih panjang dari sebelumnya.
Sayang, kamu mungkin tidak sadar betapa tenangnya aku setiap mendengar suara kamu. Bahkan ketika kamu cuma cerita hal kecil, atau mengeluh tentang hari yang melelahkan, ada perasaan hangat yang diam-diam memperbaiki hariku.
Seolah dunia berkata,
“Tenang, dia masih di sini.”
Aku sering berpikir, kenapa aku bisa sesayang ini.
Bukan karena kamu selalu kuat. Bukan karena kamu selalu baik-baik saja. Justru karena kamu manusia. Karena kamu punya takut, punya lelah, punya sisi rapuh yang tidak semua orang boleh lihat.
Dan entah bagaimana, aku ingin tetap tinggal di sisi itu.
Bukan untuk memperbaiki kamu.
Bukan untuk menyelamatkan kamu.
Tapi untuk menemani.
Karena cinta, buatku sekarang, bukan lagi tentang rasa yang besar dan dramatis. Cinta adalah keputusan kecil yang diulang setiap hari. Memilih kamu lagi. Memahami kamu lagi. Bertahan lagi.
Kadang aku takut mengakuinya, tapi ada malam-malam seperti ini ketika aku benar-benar merindukan kamu sampai dada terasa penuh. Bukan tangisan keras, bukan kesedihan besar. Hanya mata yang sedikit basah tanpa alasan yang bisa dijelaskan.
Jenis rindu yang diam.
Jenis rindu yang cuma bisa dipahami oleh hati yang sudah menemukan rumahnya tapi belum bisa pulang setiap saat.
Aku membayangkan hal sederhana. Pulang kerja, membuka pintu, dan kamu ada di sana. Tidak perlu momen istimewa. Tidak perlu kata-kata besar. Cukup kamu menoleh dan bilang, “udah pulang?”
Mungkin terdengar biasa.
Tapi buatku, itu kebahagiaan yang paling nyata.
Sayang, aku tidak tahu masa depan akan seperti apa. Aku tidak bisa menjanjikan hidup tanpa masalah, tanpa tangis, tanpa hari buruk. Tapi satu hal yang aku tahu pasti, aku ingin melewati semua itu bersama kamu.
Karena anehnya, bahkan rasa lelah pun terasa lebih ringan ketika tujuannya adalah kamu.
Jam sudah lewat tengah malam sekarang. Kota mulai tidur. Pikiranku juga seharusnya ikut tenang, tapi namamu masih tinggal di kepalaku seperti lagu yang tidak selesai diputar.
Aku tersenyum sendiri, lalu sadar sesuatu.
Aku tidak hanya mencintai kamu saat kita bersama. Aku mencintai kamu juga di jarak ini. Di malam sunyi ini. Di ruang kerja yang dingin ini. Di setiap detik ketika aku berharap kamu baik-baik saja di sana.
Dan mungkin inilah bentuk cinta yang paling dewasa.
Tetap memilih bahkan saat tidak ada yang melihat.
Tetap merindukan tanpa menuntut.
Tetap bertahan tanpa suara.
Selamat malam, sayang.
Kalau malam terasa berat, ingat saja di tempat lain ada seseorang yang diam-diam menyebut namamu dalam doa sebelum tidur, berharap dunia memperlakukan kamu dengan lembut.
Aku di sini.
Masih mencintai kamu.
Masih menunggu hari ketika rindu tidak lagi harus ditahan lewat layar kecil di tangan.
Dan sampai hari itu datang, biarkan aku merindukan kamu pelan-pelan
sampai hati ini belajar tenang hanya dengan mengetahui kamu ada.

0 komentar: