ntah aku masih menatap bayanganmu di antara sisa cahaya sore yang perlahan tenggelam. Dulu setiap kali aku melihatmu, dunia terasa punya alasan untuk berputar. Kini semuanya terasa hampa, seolah waktu mencuri warna dari hidupku satu per satu. Setiap langkah yang aku ambil selalu mengarah padamu, meski aku tahu kamu sudah jauh. satu hal Aku masih mengingat suaramu, cara kamu tertawa, dan tatapan matamu yang dulu bisa membuat aku lupa caranya marah. Sekarang semua itu hanya tinggal gema yang berputar di kepala, menimbulkan luka yang tak pernah sembuh.
Disana aku tersadar, seberapa dalamnya kamu tertanam dihidupku sekarang, walaupun kita sedang jauh, aku mau dan selalu hadir untuk kamu disana, menemani hari kamu selepas bekerja, menemani hari libur kamu dengan teman-teman kamu maupun dengan keluarga kamu. aku ingin selalu hadir sekecil apapun.
Sebelumnya, kita punya waktu bertemu, sekecil apapun, sesingkat apapun, satu hari bersama kamu rasanya kehidupan aku penuh arti. hanya satu hari bertemu dengan kamu , aku bisa melupakan apa itu “sepi”, aku pun berharap dan berusaha untuk membuat kamu tidak merasa sepi, menanggung beban sendiri, menanggung rasa lelah sendiri. kita bisa saling cerita satu sama lain. lalu, sekarang? jarak menjelma bak dinding bebas yang tak bisa aku tembus. Suara kamu sekarang hanya gemar samar lewat layar ponsel. lalu, aku disini menatap kosong sambil merenung sesal memikirkan dan berharap kita bisa bertemu dalam waktu dekat. tetapi pagi selalu datang dengan kenyataan yang sama. aku tidak bisa menjangkau tanganmu yang lentik. aku tidak bisa menatap kamu lagi. aku tidak bisa memelukmu secara erat. Lalu, mengingat bertemu denganmu dengan senyum manis , ketika kita bertemu kembali mungkin akan terasa canggung diawal-awal dan bisa mejadi cerita sendiri. aku yang selau siap menjadi rumah kamu ketika kamu lelah, aku selalu siap menjadi sandaran kamu ketika kamu lagi marah, sedih, pun senang aku selalu menjadi seoarang laki-laki yang siap ketika kamu sedang manja dan nangis.
Selagi aku masih bisa bernafas dan menolak untuk berhenti, aku ingin sekali bertemu denganmu dengan resiko apapun. kamu seperti zat adiktif yang membuatku candu, ketika bertemu membuatku tenang, rasa cemasku hilang, aku pun ingin melakukan hal yang sama kepadamu. ntah suatu saat kita benar-benar ketemu, ngobrol denganmu, memelkukmu erat , dan benar-benar menatampu lagi dengan tulus atau mungkin juga, tidak sama sekali.
Aku masih mengigat hari itu, siang hari ketika kita terakhir bertemu dirumahmu, kita membeli sebuah makanan sekaligus kamu memberikan aku sebuah boneka , tidak hanya untukku, tetapi untuk kamu juga. Kita sepakat menamainya CapiYuNa, gabungan dari nama kita yang terasa konyol tapi indah, seolah dunia hanya milik berdua. Hari itu kamu memelukku tanpa banyak bicara, seakan diam kita sudah cukup menjelaskan bahwa perpisahan ini tidak diinginkan oleh siapa pun. dihari itu kita berpelukan terakhir kalinya sebelum LDR menjamu kita. Di dalam perjalanan menuju bandara, kamu masih sempat menelpon, suaramu bergetar namun tetap terdengar lembut. Aku tahu kamu berusaha menahan air mata, begitu juga aku yang duduk menatap langit, berusaha kuat padahal seluruh tubuhku bergetar menahan kehilangan yang datang terlalu cepat. Aku masih ingat ketika kamu menjemputku di minimarket itu, hanya untuk mengatakan selamat tinggal. Momen sedih itu sedikit terpecah karena kita sempat bermain ayam-ayaman sederhana, tapi rasanya seperti waktu berhenti berputar. Kamu tersenyum, aku tersenyum, tapi keduanya hanyalah cara kita menutupi luka yang sama. Saat mobilku mulai menjauh, aku menatapmu dari kaca jendela yang mulai buram, berharap kamu tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar pergi dari hatimu.
Aku ingat kita berbincang dirumah kamu, berpura-pura biasa saja tetapi sangat sedih hati ketika tau aku akan pergi jauh untuk bekerja, bukan hanya untukku kedepannya, tetapi untuk kita. dihari itu, ada ribuan kata yang ingin aku sampaikan kepada kamu, tentang rasa kangen aku yang tidak pernah surut, tentang rasa sayang aku yang terus tumbuh, tentang bagaimana kita saling menjaga hubungan.
Saat aku pamit, aku hanya menatapmu pergi yang sebelumnya aku maksa memelukmu erat tetapi kamu begitu malu, yang malah membuat aku tertawa kecil, tetapi hari itu sedikit senang karen bisa bertemu denganmu walau hanya sebentar.
Mungkin semesta memang sengaja menjauhkan kita, bukan untuk memisahkan, tapi untuk menguatkan. Aku percaya semua jarak yang kita tempuh punya alasan yang belum bisa kita mengerti sekarang. Aku ingin kamu tahu bahwa di setiap langkah yang aku ambil, aku selalu membawa namamu bersamaku. , disetiap doa aku panjatkan, ku sempatkan menyebut namamu. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan kembali kekamu dengan hati yang lebih dewasa, dengan rasa sayang yang lebih tenang, dengan keyakinan yang tidak akan goyah lagi. Karena kamu, adalah rumah yang selalu ingin aku tuju.
For You, My lovely girl Isnaeni Haekal Maulid Wait for me, my love. Until that day comes and one day I’ll marry you 💕💍 not just because I love you, but because my heart has already chosen you as its home 🥰🥰💋💋
0 komentar: