Jika kamu membaca ini, aku harap hatimu sedang berada di versi yang paling lembut hari ini. Tidak terlalu lelah, tidak terlalu penuh, dan masih punya ruang kecil untuk rindu. Tulisan ini mungkin panjang, mungkin juga terlalu jujur, tapi anggap saja tulisan ini teman menemanimu ketika aku lagi perjalanan pulang Bahwa sejauh apa pun kita dipisahkan, kamu selalu jadi tujuan paling tenang di kepalaku.
Aku sering berpikir, jarak itu aneh. Ia tidak benar-benar menyakitkan, tapi cukup untuk membuat rindu terasa lebih berat dari biasanya. Pertemuan singkat saja rasanya sudah cukup untuk menyembuhkan hari-hari panjang yang kita lewati terpisah. Maka kalau tulisan ini terasa panjang, anggap saja aku sedang berjalan pelan menuju kamu, sambil membawa semua cerita yang ingin aku ceritakan tanpa takut kehabisan waktu.
Aku sadar, layar kecil di genggaman ini tidak pernah benar-benar mampu menggantikan hangatmu. Ia hanya cukup untuk mengabari kabar, bukan memeluk. Cukup untuk mendengar suara, bukan detak jantung. Cukup untuk berkata “aku kangen”, tapi tidak pernah cukup untuk mengobatinya. Kadang aku berbicara dengan bayanganmu di layar, berharap bayangan itu bisa menjelma jadi kamu yang duduk di depanku. Spoiler kecil: belum pernah berhasil 🤭
Aku membayangkan momen itu tiba. momen ketika aku benar-benar pulang dan bisa menatapmu tanpa jeda, tanpa harus berkata tunggu sebentar, tanpa takut baterai habis. Mungkin awalnya kita akan sedikit canggung, seperti dua orang yang terlalu lama saling menahan rindu. Tapi aku yakin, kecanggungan itu tidak akan lama. Biasanya salah satu dari kita akan tertawa duluan, dan suasana mencair begitu saja. Kalau boleh jujur, kemungkinan besar aku yang tertawa lebih dulu karena selalu kalah setiap kali berhadapan dengan kamu.
Selama ini aku menemanimu dari kejauhan. Dari pesan singkat, dari suara yang kadang putus-putus, dari notifikasi yang selalu berhasil membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Perjalanan pulang terasa panjang, sementara waktu bersamamu selalu terasa singkat. Seperti embun pagi yang hilang sebelum sempat benar-benar aku genggam.
Aku masih ingat bagaimana obrolan kecil kita bisa berubah jadi percakapan panjang tentang hidup, mimpi, dan ketakutan yang jarang kita ceritakan ke siapa pun. Dari sana aku belajar mengenalmu lebih dalam. Cara kamu berpikir, cara kamu menjaga hati, cara kamu bertahan di dunia yang kadang tidak ramah. Kamu selalu menarik untuk aku pahami, seperti cerita yang tidak pernah ingin aku tamatkan.
Aku tidak berharap pertemuan ini mengubah segalanya secara instan. Aku hanya berharap kehangatan itu masih ada. Bahwa kita masih bisa duduk berdekatan, berbagi waktu tanpa terburu-buru, tanpa distraksi, tanpa harus memikirkan besok terlalu cepat. Mungkin hanya kita, di satu ruang yang tenang, berbagi cerita, tawa kecil, dan keheningan yang tidak canggung. Bagiku, momen seperti itu justru yang paling berharga.
Tiga bulan LDR ini jujur saja tidak ramah untuk hatiku. Terlalu lama aku tidak menggenggam tanganmu, sampai tanganku sekarang lebih akrab sama ponsel daripada sama kamu. Kadang aku mikir, ini LDR apa pelatihan kesabaran tingkat nasional.
Terlalu sering aku harus puas dengan kata “nanti”, kata yang terdengar sederhana tapi durasinya suka nggak masuk akal. Kadang “nanti” itu rasanya lebih lama dari antrean BPJS atau nunggu hujan berhenti pas lagi buru-buru.
Kita sudah melalui banyak hal yang tidak kita rencanakan, dan lucunya, kita tetap bertahan. Di tengah semua itu, aku sering membayangkan betapa berharganya kalau suatu hari nanti kita bisa benar-benar mengambil jeda. Hanya kamu dan aku. Tanpa pekerjaan. Tanpa kebisingan. Tanpa notifikasi yang tiba-tiba muncul cuma buat bilang “storage almost full”.
Sekadar hadir sepenuhnya. Entah di mana, entah bagaimana. Yang penting bersama. Kadang aku bercanda sama diri sendiri, seandainya dunia mau berhenti sebentar, aku nggak akan pakai waktunya buat mikir masa depan dunia. Aku pakai buat duduk di sampingmu, pura-pura santai, padahal dalam hati bilang akhirnya ketemu juga kecayangan aku.
Untukmu, pacarku yang jauh di sana. Jika rindu ini terasa berat hari ini, ingatlah bahwa ia tumbuh karena rasa yang nyata. Aku tetap memilihmu, di dekat maupun di jauh. Dan selama jarak masih ada, aku akan terus menulis, menunggu, dan menyimpan ruang untukmu di setiap doa kecilku.
Dengan rasa yang masih sama serta rindu yang terus bertumbuh.
Akupun mempunyai sebuah puisi untukmu dan ketika aku berada dihadapan kamu, ingin sekali aku bacakan.
Aku tidak membawa janji besar
hanya rindu yang sudah terlalu lama belajar sabar
Langkahku menuju kamu
bukan untuk menuntut apa pun
hanya ingin duduk sebentar
di dekatmu
tanpa jarak, tanpa jam
Jika nanti aku memelukmu
itu bukan karena waktu kita sempit
tapi karena rindu ini terlalu penuh
Aku pulang
bukan untuk mengikat
hanya ingin diingat
bahwa hatiku selalu tahu
ke mana harus kembali
Untukmu
tempat pulangku yang paling tenang
.
Sebagai penutup, teriamakasih yah sayang untuk terus mencoba membuka hatimu kepadaku lagi dan terakhir “Cung , siapa yang kangen?”
Dari : Yudit Gans bet yang ingi menjadi imammu dimasa depan

0 komentar: