Everything You Know the Story

Dimulai dengan pertanyaan “seberapa lama orang lain menyadari bahwa kamu hilang?” ada yang berpendapat 2 minggu, adapun yang mengatakan terg...

To Disappear Completely II : Without A Trace



Dimulai dengan pertanyaan “seberapa lama orang lain menyadari bahwa kamu hilang?” ada yang berpendapat 2 minggu, adapun yang mengatakan tergantung seberapa sering kamu berhubungan dengan mereka. Tapi apakah itu ironis? keberadaanmu seakan diukur seberapa sering namamu disebut atau muncul di layar ponsel orang lain. Garis besar keinginan kamu menghilang bukan semata-mata karena bosan, mungkin faktor lelah akan kehidupan, rasa bersalah, rasa putus asa ataupun kehilangan arah hidup yang semakin memudar, rasa tersebut merambat masuk di dalam.


Kamu ingin menghilang bukan semata-mata karena keegoisanmu, Setiap hari kamu berjalan di lorong yang sama, lorong yang tak pernah menawarkan pintu keluar. Pekerjaan hanyalah rutinitas yang menelan jiwamu sedikit demi sedikit. Malam bukan waktu beristirahat, tap pikiranmu berisik, berlarian tanpa henti. Akhir pekan yang biasa bergairah, memberi warna. Kini, hanyalah kekosongan yang memelukmu erat, membuat napas terasa berat. 


Setiap hari kamu selalu mendengar bisikan, pelan tapi tajam "Kalau kamu menghilang, tak ada yang peduli juga." lalu kamu percaya, karena tak ada satupun tanda yang mengatakan sebaliknya. Kamu membayangkan dunia tanpamu, dan itu hal normal. Tak ada dentuman besar, tak ada kehilangan yang dramatiss, hanya sunyi, lalu semuanya berlanjut sepert biasa. 


Kesendirian akan perasaan hampa bukan untuk menyerah, tapi untuk memutus semua koneksi lama dan memulai hidup baru ditempat yang tak mengenal kamu. Kadang, kamu menghilang bukan karena lemah atau benci dunia. Kamu hanya ingin diam, tak terlihat, tak terdengar, berharap semua beban larut bersama senyapnyaa malam.


Kamu mulai, mengasingkan diri, perlahan tanpa suara.

Kamu menarik diri dari teman-temanmu, sahabatmu, pacarmu, bahkan keluargamu. Nama mereka masih tersimpan di dalam kontakmu, tapi jarimu tak lagi mengetik pesan. Berikan senyum di wajah tapi hanya sebagai topeng, Topeng yang rapuh, retak dan nyaris pecah.Suara tawa yang dulu memenuhi ruangan kini hanyya menjadi gema samar di kepala.  Kamu mulai jarang muncul di tempat-tempat yang dulu menjadi bagan dari hidupmu, Kamu menyimpan uangmu, bukan untuk masa depan yang cerah, tetapi untuk beekal pergi jauh, tanpa arah kembali. 


Kamu perlu membalas teman-temanmu sesekali agar mereka mengira kamu siibuk, Kamu merencanakan segalanya, dengan tenang, bukan karena marahh tapi karena kamu yakin bahwa kamu sudah benar-benar pergi. 


Didunia nyata, kamu mulai menghapus foto-foto sosial media, simpan bebereapa nomor darurat yang mungkin tidak akan pernah kamu hubungi. Kamu tidak lagi nongkrong di kafe langganan, yanng kamu lakukan adalah duduk di sudut kaamr, menatapi dinding, mendengar detakan jam seperti hitungan mundur. Kamu mula belajar menghlang dar rutniitas, pagi hari, kamu setelah meninggalkan barang-barangmu, yang tertinggal hanyalah udara hampa dan pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab "Dia Kemana?"

0 komentar: